Boxing VS MMA: Studi Perbandingan Olahraga Apa Lebih Berbahaya

Olahraga mixed martial arts atau MMA seringkali dianggap olahraga yang brutal. Masyarakat awam (terutama di Indonesia) masih melihat olahraga baru ini penuh kekerasan dan berbahaya. Bermacam-macam komentar yang muncul saat nonton pertandingan MMA seperti “kok boleh pake kaki?”, atau “lawannya udah di lantai kok masih dihajar?”, dan salah satu yang paling umum adalah “ini ga pake aturan ya?”.

Tidak bisa disalahkan persepsi seperti itu karena MMA memang lahir tanpa aturan awalnya (silahkan tonton UFC 1 yang muncul di tahun 1993), namun organisasi terbesar MMA yaitu UFC sejak di ambil alih oleh Fertitta bersaudara dan Dana White di tahun 2000 berusaha untuk menciptakan olahraga full contact yang aman dengan melapisinya dengan berbagai peraturan dan disahkan oleh komisi atletik. Alhasil, UFC di zaman sekarang sukses menjadi ajang tarung bebas yang mendunia dan belum ada kasus kematian di organisasi tersebut. Walau ada segelintir berita kematian di ajang MMA, hal tersebut terjadi di ajang-ajang kecil amatir yang kurang pengawasan resmi.

Studi Terhadap Olahraga Tinju

boxing ko

Berbagai studi telah dilakukan untuk meneliti tingkat bahaya kedua olahraga full contact tersebut. Menurut The American Association of Neurological Surgeons, 90% petinju akan mengalami cedera otak di akhir karir profesional mereka. Selain cedera otak, para atlit tinju kerap mengalami cedera mata dan dementia (gangguan otak yang menyebabkan korban sulit mengingat dan berpikir, gangguan emosional, dan/atau menurunnya motivasi diri).

Nevada State Athletic Commission melakukan studi selama lima tahun dan menyimpulkan bahwa sarung tinju memiliki hubungan langsung dengan tingkat cedera otak di olahraga tinju. Mengapa demikian? Karena bantalan sarung tinju memungkinkan para atlit tinju menerima serangan di kepala berulang kali, dan hal tersebut justru berakibat buruk dalam jangka panjang. Olahraga tinju mengutamakan serangan ke kepala lawan, dibandingkan dengan MMA yang memiliki berbagai cara untuk menghentikan lawan (submission, dan cepatnya reaksi wasit menghentikan pertarungan bila salah satu atlit tampak tidak mampu melindungi diri lagi).

Menurut studi yang dilakukan oleh British Board of Sports Medicine dari tahun 2002 hingga 2007 menyimpulkan bahwa:

“the standing eight count is the primary cause of the most serious injuries in boxing because it gives fighters the option to worsen injuries they have already sustained.”

“Hitungan hingga delapan saat berdiri adalah penyebab utama cedera serius di dunia tinju karena para atlit tinju di beri pilihan untuk memperparah cedera yang mereka sudah miliki.”

Melanjutkan pertarungan setelah mengalami cedera otak menyebabkan para atlit tinju mengidap apa yang disebut para praktisi medis sebagai pugilistic dementia (gangguan otak disebabkan oleh serangan di kepala). Dibanding MMA, dunia tinju acap kali memperbolehkan petarung untuk melanjutkan pertarungan walau mengalami knockdown asalkan petinju dapat merespons perintah wasit setelah berdiri. Terjadinya concussion (atau gegar otak, korslet di bagian syaraf otak) sudah semestinya cukup untuk menghentikan pertarungan.

Sejak tahun 1986 hingga 2006, telah terjadi 70 kasus kematian disebabkan oleh cedera berkaitan dengan olahraga tinju.

Studi Terhadap Olahraga MMA

silva weidman 2

Olahraga MMA memperbolehkan petarung menggunakan berbagai teknik -seperti memukul, menendang, membanting, dan memiting, dan pertarungan bisa dimenangkan dengan cara lain seperti submission. MMA tidak memiliki standing eight count seperti olahraga tinju, apabila terjadi knockdown yang fatal (terkena serangan hingga petarung tampak tidak sadar) maka wasit berhak menghentikan pertarungan.

MMA juga menyebabkan berbagai cedera, namun berbeda dengan olahraga tinju. Persentase terjadinya trauma otak lebih kecil, namun petarung mengalami jenis cedera yang berbeda seperti: patah tulang dan cedera otot pada umumnya.

Sebuah studi yang dilakukan oleh John Hopkins University School of Medicine tahun 2008 memaparkan bahwa cedera yang paling umum terjadi di olahraga MMA adalah cedera kulit atau cut, dan cedera tulang.

Telah terjadi dua kasus kematian di olahraga MMA. Pada tahun 1998, Douglas Dedge meninggal setelah bertarung di sebuah ajang yang tidak di sahkan oleh komisi atletik di Ukraina. Di tahun 2007, Sam Vasquez meninggal setelah mengalami cedera disebabkan oleh pertarungan MMA di Houston, AS.

Pada umumnya, olahraga full contact atau bahkan olahraga apapun cenderung menyebabkan cedera karena aktivitas fisik. Namun, berbagai studi menyimpulkan bahwa olahraga tinju lebih berbahaya dibandingkan dengan olahraga mixed martial arts.

MMAddict Indonesia

Sumber: http://www.askmen.com/sports/fanatic_300/316b_which-is-more-dangerous-boxing-or-mma.html, wikipedia.org

Advertisements

Alexander Gustafsson Cedera, Daniel Cormier Lawan Jon Jones Di UFC 178

UFC 170: Cormier v Cummins

Divisi light heavyweight UFC memunculkan intrik baru dengan majunya Daniel Cormier (W15-L0), mantan juara turnamen Strikeforce Heavyweight GP, menggantikan Alexander Gustafsson yang dilaporkan mengalami cedera lutut saat latihan untuk melawan Jon Jones juara bertahan divisi light heavyweight UFC di ajang UFC 178 tanggal 27 September nanti.
Mantan atlit gulat Olimpiade asal Amerika Serikat Daniel Cormier apabila dilihat angka rekor karir MMA profesionalnya saja terkesan pemain baru di olahraga mixed martial arts, namun melejitnya karir atlit yang satu tim bersama juara divisi heavyweight UFC Cain Velasquez ini terus membuktikan dengan kemenangan atas lawan-lawannya yang melebihi rekor dan pengalamannya seperti Antonio Silva, Josh Barnett, Frank Mir, hingga veteran ternama Dan Henderson terakhir di ajang UFC 173 bulan Mei lalu.
Petarung berumur 35 tahun belakangan ini memang sangat menginginkan bertarung merebut sabuk divisi light heavyweight, dengan jelas Cormier memanggil dan menantang sang juara untuk melawannya saat diwawancara Joe Rogan sehabis mengalahkan Dan Henderson. Cederanya Alexander Gustafsson merupakan keberuntungan bagi Cormier yang semakin dekat dengan impiannya.

Jon Jones and Alexander Gustafsson
Sedangkan untuk Alexander Gustafsson (W16-L2), hambatan ini semakin menjauhinya dari keinginan atlit asal Swedia ini untuk kembali bertemu Jon Jones dan menjadi juara divisi light heavyweight UFC. Jones dan Gustafsson sebelumnya pernah bertarung sengit selama 5 ronde penuh di UFC 165 bulan September tahun lalu, Jones mempertahankan sabuk dengan hasil unanimous decision.
Jon Jones (W20-DQ1), sang juara bertahan sebelumnya juga mengatakan lebih menginginkan bertemu Daniel Cormier ketimbang rematch bersama Alexander Gustafsson beberapa bulan lalu di jejaring sosial Twitter. Keinginan ini banyak diinterpretasikan oleh para pengamat dan penggemar seolah menghindar dari Gustafsson.

UFC Fighter Portraits
Sabuk kejuaraan divisi light heavyweight dimenangkan Jones dengan kemenangan telak atas juara sebelumnya Mauricio Shogun Rua di UFC 128 tiga tahun lalu dan sukses dipertahankan hingga sekarang melawan Quinton Jackson, Lyoto Machida, Rashad Evans, Vitor Belfort, Chael Sonnen, Alexander Gustafsson, dan terakhir Glover Texeira di UFC 172 bulan April lalu. Jones adalah juara bertahan terlama sepanjang sejarah UFC untuk divisi light heavyweight.

MMAddict Indonesia

Sumber: MMAFighting.com, wikipedia.org