Countdown to UFC 163: Machida vs. Davis, Keinginan Machida Merebut Kembali Sabuk Light Heavyweight UFC.

Image

“I miss the weight of the belt. I want it back.”

Para penggemar MMA di Indonesia, siapa yang tidak kenal Lyoto Machida (W19-L3)? “The Dragon” adalah salah satu petarung blasteran Brazil-Jepang yang memiliki gaya tarung yang sangat unik. Machida berasal dari keluarga yang mendalami Shotokan Karate. Ayahnya bernama Yoshizo Machida pindah ke Brazil saat berumur 22 tahun dan menikah dengan Ana Claudia berdarah Portugis. Selama hidupnya, ia melatih Karate dan hingga sekarang Yoshizo adalah ketua Japan Karate Association cabang Brazil. Lyoto sejak kecil mendalami Karate. Jujitsu, dan Sumo. Ia rajin mengikuti dan menang beberapa turnamen Karate dan Sumo di Brazil. Lyoto tidak hanya berprestasi di bidang beladiri, ia juga lulusan perguruan tinggi di bidang Physical Education (olahraga).

Ia mulai bertarung MMA secara profesional di Jepang pada tahun 2003 dibawah management Antonio Inoki (seorang pro-wrestler Jepang yang pernah bertarung dengan Muhammad Ali menggunakan peraturan yang mirip MMA pada akhir dekade 1970an). Kemenangan perdananya ketika mengalahkan Kengo Watanabe secara decision. Lyoto lalu bertemu Stephan Bonnar di ajang Jungle Fight yang berlangsung di Brazil dan menang TKO karena Bonnar mengalami luka dan harus dihentikan wasit. Pertarungan ketiga The Dragon melawan Rich Franklin (mantan juara middleweight UFC zaman pra-Anderson Silva) dengan kemenangan TKO karena tendangan yang bersarang di kepala Franklin dan disusul beberapa pukulan penghabisan. Karir MMA Lyoto Machida sangat menjanjikan, ia  terus meraih kemenangan melawan Michael MacDonald, Sam Greco, bahkan BJ Penn. Ia mengumpulkan 8 kemenangan dan tanpa sekalipun kalah sebelum akhirnya Lyoto bergabung dengan UFC. 

Machida bertemu dengan Sam Hoger untuk pertarungan perdananya di UFC 67, The Dragon memperlihatkan gaya bertarung Karate untuk MMA pada pertama kalinya yang membuat Hoger tidak mampu menyerang Machida selama 3 ronde. Akhirnya pertarungan dimenangkan skor mutlak oleh Machida.

Setelah 5 kali bertarung dengan terus meraih kemenangan, Lyoto merasa siap untuk menantang juara light heavyweight UFC saat itu yaitu Rashad Evans. Lyoto memenagkan pertarungan ini dengan hasil KO pada ronde 2, Rashad sama sekali tidak mampu mengenai Lyoto selama pertandingan. The Dragon akhirnya menjadi juara UFC divisi light heavyweight dengan rekor MMA 15 kali menang tanpa kekalahan, komentator UFC Joe Rogan menyambut kedatangan seorang juara baru dengan berkata “Welcome to the Machida era.”

Namun, tidak hanya Machida yang bertekad menjadi juara divisi light heavyweight UFC. Mauricio “Shogun” Rua (mantan juara PRIDE Middleweight GP Tournament 2005) , petarung asal Brazil ini dengan pelan tapi pasti terus menanjak tangga puncak divisi dengan memenangkan pertemuan Shogun melawan Mark Coleman dan Chuck Liddell. Pertemuan pertama Shogun melawan Lyoto dilanda kontroversi karena Lyoto menang skor mutlak yang menurut banyak pengamat MMA menganggap Shogun harusnya unggul. Pada rematch, The Dragon kalah telak di ronde pertama dengan KO dan ground n’ pound, untuk pertama kalinya Lyoto Machida kalah dan kehilangan sabuk kejuaraan.

Lyoto Machida setelah kekalahannya bertemu dengan Quinton “Rampage” Jackson dan sekali lagi mengalami kekalahan yang tipis (split decision). Namun nasib Machida membaik setelah menghasilkan kemenangan yang spektakuler melawan Randy Couture berupa tendangan ke wajah Couture dan dinobatkan sebagai salah satu KO terbaik sepanjang sejarah UFC.

Bermodalkan kemenangan atas Couture, Machida mendapat kesempatan untuk merebut kembali sabuk kejuaraan yang saat itu berada di tangan juara bertahan hingga sekarang Jon “Bones” Jones. Pada ronde pertama, Machida unggul dengan menggunakan teknik Karatenya melawan Jones. Namun di ronde berikutnya, Machida terkena pukulan Jones dan langsung dicekik Jones hingga pingsan. Pertarungan berikut Machida melawan pegulat asal AS Ryan Bader, Machida menangkan dengan cukup mudah pada ronde 2 dengan memukul telak Bader hingga KO. Di bulan Februari lalu, Machida bertemu dengan veteran MMA Dan Henderson dan menang unggul skor.

Lawan berikut Machida adalah pegulat handal Phil Davis, yang menurut UFC berada di peringkat ke-8 divisi light heavyweight UFC. Mereka akan bertemu di UFC 163 sebagai co-main event sebelum partai utama yaitu Jose Aldo VS Chang Sung Jung alias “The Korean Zombie” yang akan berlangsung di Rio De Janeiro, Brazil pada tanggal 3 Agustus mendatang.

MMAddict Indonesia

Sumber: UFC.com, youtube.com

 

 

 

One thought on “Countdown to UFC 163: Machida vs. Davis, Keinginan Machida Merebut Kembali Sabuk Light Heavyweight UFC.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s